Senin, 09 Mei 2011

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga


Hari itu Selasa, 12 April 2011, saat itu aku telah siap berangkat kuliah di kampusku. Kampus ku Bernama Unisma, singkatan dari Universitas Islam 45 yang bertempat di JL. Cut Meutia, Bekasi Timur.

Aku masuk unisma pada tahun ajaran 2009, dan di Unisma aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi S1.

Hari itu selasa, 12 April 2011, aku berangkat pukul 09:00 pagi karena aku akan mempresentasikan tugas mata kuliah Komunikasi Massa pada pukul 10:00 bersama teman kampus ku Arisanto.

Arisanto adalah seorang pria berumur 19 tahun yang tinggal di Cimuning, kota Bekasi. Ia sering menggunakan kacamata yang agak besar dan memiliki rambut khas yang kriwil, tapi memang saat itu dia sudah potong rambut, jadi tidak berambut kriwil lagi, tingginya 165 cm dengan berat badan 54 kg.

Aku pun siap melajukan Si Jupe (motor JupiterZ ku yang berwarna hijau cerah, bak warna tabung gas 3kg) sebelum berangkat aku berpamitan dahulu dengan ibundaku tersayang sambil mencium tangannya yang penuh dengan kasih sayang, seraya memberi uang jajan berwarna hijau padaku senilai dua puluh ribu rupiah. Aku pun mulai melaju dengan Si Jupe ku tersayang, karena aku ingin mengejar waktu untuk presentasi. Aku pun menancap gas hingga 60 km/jam agar tidak telat presentasi karena aku dan Ari kelompok pertama yang akan maju.

Saat 15 menit perjalanan, aku merasa klakson motor ku suaranya redup. “teeett..teett” klakson meneriakkan suara terakhirnya lalu ku tekan-tekan terus dan malah makin tak ada suaranya, lalu aku  pun memberhentikan sepeda motor ku itu di pinggir jalan daerah pangkalan 5 dekat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang lumayan tercium aroma sampah-sampah yang sangat tidak sedap. Dengan perlahan saya pun berhenti, dan menekan2 klakson terus, tetapi tetap saja tidak menyala, lalu saya pun lupakan masalah klakson itu, dan langsung menstarter motor ku itu untuk melanjutkan sisa perjalananku yang  masih 30 menit lagi. Tapi aku masih penasaran dengan motor ku ini, lalu ku hentikan sejenak motor ku, dan ku nyalakan ulang starternya, tapi seketika wajah ceria ku pun langsung berganti dengan wajah panik, karena saat di starter motor ku tidak  bisa menyala hanya ada bunyi “Cssstt” dan setelah itu tidak bisa distarter lagi. Akhirnya ku dorong  sepeda motor ku itu dengan tertatih-tatih karena lumayan berat, apalagi saat mendorong di jalanan yang menanjak.

Para pengendara motor berlalu-lalang dihadapanku, dan hanya melihati aku yang sedang susah payah mendorong sepeda motor itu, dan ada pula sopir angkot genit yang lewat sambil menggoda ku dengan berkata “haaii Neng...!”, seraya mengedip-ngedipkan matanya. Sontak, Aku malah jadi bertambah dongkol karena saat aku sedang susah, masih saja digoda seperti itu, bukannya membantu. Aku terus menelusuri jalan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menerawang  keberadaan bengkel agar Si Jupe ku cepat sembuh dan bisa melaju ke kampus lagi.  Keringatku bercucuran membasahi muka ku yang tertutup oleh helm full face.

Akhirnya ku temukan juga bengkel motor. Disana tampak 2 orang pria pekerja bengkel sedang asik men-steam motor, 2 orang bapak-bapak pemilik motor yang sedang menunggu motor dicuci sambil duduk dan minum kopi, dan juga seorang ibu pemilik warung disebelah bengkel tersebut.

Aku pun  berhenti, “permisi.. saya mau servis motor saya, soalnya moror saya mati mendadak nih..” Lalu pria pencuci motor yang satu berkata “wah.. montirnya lagi pergi neng, tunggu aja!”.
“Wah, lama gak yah bang? Soalnya saya mau buru-buru ke kampus nih!” kata ku. Lalu si pria tadi menjawab “wah.. gak tahu juga neng, mungkin sebentar lagi kali, soalnya udah lumayan lama juga, dia lagi ke warung”.
“Oh, begitu yah bang.., makasih..”

Aku pun duduk bersandar dibangku yang terbuat dari bambu yang di taruh di bawah pohon. Sambil meng-SMS pacar ku untuk sekedar memberi  kabar tentang mogoknya motorku. Sambil menunggu balasan SMS, ku tekan saja nomor telepon ibu saya, dan langsung menelponnya. Tattitituttatittut “Halo..” Terdengar dari suara hanpdone ku. Lalu ku jawab “Halo.., Mamah..! Motor Rika mogok ni, mah..” sambil merengek manja pada ibu ku karena aku panik.
 “mogok dimana?” kata  ibu ku.
“Mogok di deket pangkalan 5 mah, yang banyak bukit sampahnya”.
ibu bilang “ Ya udah, pulang aja.. gak usah masuk kuliah dulu.”
Aku bilang “lagi di bengkel kok, mah.. tapi montirnya lagi gak ada, lagi pergi dulu katanya. Eh tapi udah datang tuh mah montirnya, yaudah Rika mau samperin montirnya dulu yah, mah.. Assalamu alaikum..”.
 “Iya, hati-hati yah nanti. Walaikum salam..”. Jawab ibuku dibalik telepon.

Lalu ku tutup telp ibuku lalu ku datangi montirnya. Tampak seorang montir dengan wajah hitam manis, tapi tidak tampan dengan rambut hitam yang agak bergelombang.
“Bang, motor saya mati nih.. kenapa yah?”, kataku. Lalu si abang montir menyelah motor ku, dan waaaaahhh, ternyata motor saya dapat menyala, dan tidak rusak. Hahaha aku menjadi malu, karena ternyata motorku bisa menyala hanya dengan diselah, karena kata si montir, motorku kehabisan air aki.

“Wah, ini sih akinya habis, mesti ganti!” seraya membuka penutup aki di bagian sebelah kanan body motor ku.

“wahh kalau ganti bisa mahal nih, mending nanti aja deh sama si Ayah aja di gantinya, soalnya kalau sekarang gak ada duit”. Batinku.

“Wah.. tapi gak mesti ganti sekaranag kan bang? Dan masih bisa nyala, kan?”

“iya bisa, neng.. tetep nyala kok”.

“Oh, kalau gitu makasih yah, bang.. saya gak jadi servis deh soalnya mau buru”.

“Iya neng gak apa-apa”.

“Huuhh.. syukur alhamdulillah deh kalau gak apa-apa” batin ku.

Kutancap gas untuk melanjutkan perjalanan lagi dengan kecepatan 60 km/jam, sambil bernyanyi dan mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu house remix yang aku dengarkan melalui headset. 20 menit kemudian perjalanan daerah Kemang, Bekasi  macet karena banyak mobil-mobil besar yang lewat daerah itu. Aku sempat kaget saat melihat ada Dishub yang memakai jaket dinas berwarna orange. Tapi dalam hatiku berkata

“Ah, ngapain juga takut.. polisi itu kan Cuma nilang mobil-mobil truk doang, emangnya gue naik truk, apa.. kok takut gini sih..! santai aja, ah..”

Dibalik kemacetan itu terlihat hal yang benar-benar aku takuti, tampak 7 orang polisi  memakai jaket dinas berwarna hijau muda yang sedang razia. Aku pun panik, seorang polisi mendatangi aku yang sedang mengendarai sepeda motor, dan ingin memegang kepala motor ku agar berhenti. Lalu ku tancap gas untuk mengelak tangkapan polisi itu, dan akhirnya aku bisa menerobos dan lolos dari tangkapan polisi itu. Tapi ada perasaan takut dan bersalah dihati ku, aku takut aku dan Jupe di kejar oleh para polisi tadi. Setelah lolos, ternyata 10 meter dari tempat razia tadi, ada razia juga. Mungkin untuk menyaring motor-motor yang berhasil lolos dari tilangan tempat pertama. Aku pun tak bisa mengekelak lagi, dan karena perasaan bersalah aku pun menghentikan perjalananku dan menepi di tempat razia.
Seorang polisi  menghampiriku sambil berkata “STNK ada?”.

“ ada pak..”

“ KTP sama SIM juga ada?”. Dengan to the point, tapi sambil senyum-senyum.

Lalu saya sedikit berbohong agar kesalahan ku tidak banyak “KTP ada, tapi kalau SIM saya belum punya pak, soalnya saya baru-baru ini naik motor sendiri”.

“wahh.. kamu ini masa sudah besar nggak punya SIM sih, yaudah mana STNK nya?”.

Ku ambil STNK ku di dalam dompet favorite ku yang berwarna coklat, dan mengambil STNK dan KTP ku.

Lalu si pak polisi itu berjalan ke arah polisi yang lain, dan memberikan STNK beserta SIM ku kepada polisi lainnya yang sedang sibuk mencatat surat tilang. Para korban tilang pun antri untuk menerima surat tilang, dan adapula yang bernegosiasi dengan pak polisi sambil memberikan uang agar tidak jadi ditilang.

Setelah beberapa lama melayani para korban tilang akhirnya tiba saatnya aku untuk bernegosiasi dengan polisi itu. “Ini kesalahannya apa?” tanya pak polisi.
“gak ada SIM pak..” kataku
“Oh, terus gimana? Mau tilang atau saya bantu?” dengan to the poin nya pak polisi itu bicara. Lalu polisi itu mengeluarkan surat tilang, lalu menunjukkannya padaku.
“Nihh, kalau mau tilang nanti kamu sidang aja, biayanya segini kalau kesalahannya nggak punya SIM” sambil menunjuk tulisan Rp 1000.000,-
Aku pun kaget bercampur bingung sebab ini adalah tilang ku yang perdana.
“Yahh, pak.. jangan ditilang donk, pak.. saya kan baru naik motor, jadi belum buat SIM” dengan nada memelas, berharap agar polisi itu iba dan menurunkan harga atau pun meloloskan aku.

Pak polisi menyuruh aku mendekatkan kepala ku dengan kepalanya agar negosiasinya tidak terlihat dan terdengan oleh orang-orang.
“Hey, kamu nya kesinian dong, saya nggak dengar ini soalnya pakai helm” sambil menunjuk helm yang ia kenakan.
Huuuhhh alasan saja, bilang saja tidak ingin ketahuan orang lain saat disuap.
“Kalau mau saya bantu, kamu cukup bayar lima puluh persennya saja” kata polisi itu.
Jantungku merasa seperti mau meledak mendengar kata-kata itu.
“Haahh.. bayar lima ratus ribu, gitu pak?”.
Polisi itu malah marah “ kok lima ratus ribu, sih? Ini loh.. segini.. 50 persen dari yang ini: sambil menunjuk nominal uang seratus ribu rupiah.
“oohh maksud bapak, yang ini.. yang seratus ribu? Lima puluh persen dari seratus ribu, berarti lima puluh ribu, donk maksud bapak?” goda ku.
“iya segitu, tapi kalau kamu nggak mau juga gak apa-apa, kamu saya tilang aja, terus kamu tinggal hadir dalam sidang”.
“Yaahh jangan donk pak, kalau bisa tolong dikurangi dong pak.. saya kan anak kuliah pak, belum kerja, belum punya uang sendiri”.
“Yaahh justru itu karna kamu cewek, saya kasihan, makanya saya mau bantu kamu, makanya saya kurangi. Kalau saya nggak kasiahn juga ngapain saya bantu. Sambil melotot layaknya harimau ingin menerkam mangsa.
“yahh, tiga puluh ribu aja dong, pak..”
“ya udah kamu saya kasih surat tilang aja deh, dibantu juga gak mau!” dengan tampang cemberut.
“Oke, oke deh pak.. ya udah saya bayar lima puluh ribu”.
Aku keluarkan uang senilai lima puluh ribu sambil ku sodori di tangan ku tanpa sembunyi-sembunyi layaknya orang berjabat tangan.
Polisi itu pun marah-marah “kamu ini..!!! maksudnya apa kamu ngasih uang ke saya kaya gitu, di pamer-pamer? Kamu mau semua orang dijalan lihat kamu ngasih duit ke saya?”
Rasain lu, gue malu-maluin di depan umum. Rese banget sih pake nilang-nilang gue segala.
“Ih, nggak kok pak.. saya gak ada maksud kaya gitu. Lagian juga orang- orang dijalan gak ada yag liat, terus juga  orang yang di belakang bapak juga pasti udah ngerti lah. Dia juga pasti kaya gini” sambil menunjuk korban tilang yg lain.
“Ya sudah, mana?”
Aku pun mempasrahkan uangku untuk polisi itu. “ini pak, maaf”
Polisi itu pun memasukan uang ke saku baju dinasnya, dan mengembalikan STNK dan KTP ku.
Aku menghampiri motor ku dan menyalakan mesin dengan starter.  Sialnya lagi motor ku tak dapat menyala. Aku selah, tapi aku tak kuasa menyelahnya karena energi ku sudah terkuras saat mendorong motor, dan saat berkelit dengan polisi-polisi jalan yang menyebalkan.

“Pak, bisa minta tolong gak, selahin motor saya?” tanya ku pada warga yang sedang duduk di warung pinggir jalan yang sedang melihat aksi para polisi-polisi dalam menangkap mangsanya.
Lalu salah satu bapak-bapak membantu menyelah motor ku, dan motor ku pun menyala.

“ Makasih yah pak..” ucap ku pada bapak itu

“iya, neng.. sama-sama.. hati-hati yah, neng”

“iya pak” jawabku.

Kuteruskan perjalanan yang melelahkan sekaligus menyebalkan itu, hingga akhirnya aku sampai ke kampus ku. Lalu aku parkir motor, dan langsung berlari ke gedung C.102. untungnya dosen ku tidak marah karena aku telat presentasi, tapi malah iba setelah mendengar alasan ku mengapa aku bisa telat datang.
Aku dan temanku pun mulai mempresentasikan tugas komunikasi massa.

Selesai

Rika Gustina
41182037090008

Rabu, 04 Mei 2011

Pemancingan Pribadi di Ciawi


Kejadiannya saat 1 hari sesudah natal, tepatnya tanggal 26 Desember 2008.

Pagi itu cuaca sangat cerah, saya bersiap-siap untuk melakukan perjalanan bersama bos saya, bapak Joni, beserta asistennya, saudara Ivan. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan terlebih dahulu siapa itu bapak Joni dan saudara Ivan.

Bapak Joni adalah seorang pengusaha gas elpiji pertamina, beliau berperan sebagai distributor resmi dari Pertamina, sekaligus pemilik agen gas elpiji dengan nama "AGEN DITA AYU", gudang beliau terletak didaerah Setu Bekasi. Sedangkan Ivan adalah asisten beliau, yang bertugas membantu segala kegiatan beliau di lapangan maupun di rumah, dia juga merupakan kawan karib saya. Sejak bulan Agustus 2008 hingga April 2009, saya bekerja sebagai Arsitek di gudang elpiji milik bapak Joni, bisa dibilang selama 1 tahun, hubungan saya dengan bapak Joni beserta karyawan-karyawannya terjalin cukup baik, bahkan hingga detik ini, silaturahmi kami tetap berjalan.

Kembali lagi ke topik bahasan, sejak 1 hari sebelumnya, kami bertiga sudah memiliki rencana untuk silaturahmi ke rumah rekan bisnis beliau yang terletak di daerah Ciawi, yang biasa dipanggil dengan sebutan bapak RS. Secara pribadi, saya juga kurang mengenal sosok dari bapak RS, yang saya tahu, beliau orang yang cukup disegani didunia bisnis elpiji.

Selain kami bertiga, karyawan-karyawan bapak Joni di gudang Setu juga rencananya akan berangkat ke sana, dan kami sudah janjian untuk bertemu di SPBU tol Jakarta-Ciawi. Dari kelompok gudang, cukup banyak karyawan bapak Joni yang ikut, dipimpin sang kepala gudang, bapak Kesi, kemudian bapak Lopi, bang Kawas, Berton, Ndit, Kantong, bang Madan, dan Aden.

Singkatnya, kami pun tiba di rumah kediaman bapak RS, kami mendapat sambutan yang cukup hangat dari beliau dan keluarga. Dari cerita-cerita, saya mendapat kesimpulan kalau para pengusaha ini dulunya adalah pribadi-pribadi yang tangguh, mereka memulai usaha mereka benar-benar dari nol, pahit getirnya kehidupan sudah mereka alami, banyak pelajaran-pelajaran tentang hidup, khususnya tentang dunia usaha yang bisa saya ambil dari mereka.

Setelah santap siang, dan bersenda gurau, kami semua diajak oleh bapak RS untuk melihat kolam pemancingan ikan pribadi beliau. Kolamnya cukup luas, letaknya juga berada diatas perkampungan, jadi sirkulasi air kolam tertata cukup baik. Ada sekitar 3-4 kolam yang dimiliki oleh beliau, tapi yang paling bagus yang letaknya paling atas, disana terdapat pintu dan pagar besi yang mengelilingi, juga ada pendopo untuk istirahat, dan ada jembatan beratap ditengah-tengah kolam, yang berfungsi sebagai penghubung kolam, sekaligus sebagai tempat memancing.

Kami semua langsung mengeluarkan alat pancing, dan mulai memancing ikan Mas dan ikan Gurame yang terdapat didalamnya. Tidak terasa sudah hampir 4 jam kami memancing, dan hari juga sudah mulai gelap, kami pun memutuskan untuk menyudahi kegiatan kami hari ini, dan berniat untuk pamit pulang. Hasil pancingan kami cukup banyak, 3 karung ikan, dengan bobot kurang lebih 2 kwintal. Kami sangat senang sekali hari ini, saya yang kurang suka memancing, karena menurut saya membosankan, hari ini sangat antusias mengikuti kegiatan memancing kali ini.

Pengalaman itu tidak akan pernah saya lupakan, saat-saat paling membahagiakan karena kami semua merasa seperti bersaudara. Saat hendak pamit, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada bapak RS dan keluarga, beliau benar-benar menyambut kami dengan sangat baik, memberikan kesempatan kami untuk memancing, dan membawa pulang ikan-ikannya. Bahkan beliau seperti tidak rela saat kami hendak pulang, dan meminta kami untuk menginap di rumahnya. Dengan halus kami menolak, karena tidak enak kalau terlalu lama merepotkan beliau.

Kami semua pulang dengan hati senang, hujan rintik-rintik yang menemani sepanjang perjalanan, seakan tidak mampu menyembunyikan binar kecerahan di wajah kami. Di jalan tol Jakarta-Ciawi kami berpisah arah, saya, Ivan, dan bapak Joni menuju arah Bekasi, sedangkan bapak Kesi dan yang lain menuju arah Cileungsi. Malam semakin larut, dan kami semua menuju rumah masing-masing dengan tubuh letih dicampur perasaan yang gembira.

Wassalam.

Nama : Agus Supriyanto
NIM : 41182037090021
Ilmu Komunikasi


 

Sabtu, 30 April 2011

BUKAN GEPENG BIASA


Tahun demi tahun jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) di Bekasi makin bertambah. Hingga kini  tidak ada solusi yang tepat untuk mengatasi hal itu. Gepeng tersebut hampir tersebar di seluruh wilayah Kota Bekasi, apalagi paling banyak berada di Wilayah Bekasi Timur misalnya saja Daerah Rawa Panjang dan Bantar Gebang. Kehidupan gepeng di Bekasi sendiri dapat ditabulasi dalam beberapa  jenis. Pertama, ada gepeng yang bekerja di sektor informal seperti  mengamen, sebagai buruh dan asongan, kedua hidup menggelandang sebagai tunasosial, ketiga menjadi pengemis, keempat sebagai joki three in one dan tunasusila dan sisa lainnya tidak jelas. Melihat hal itu maka gepeng menjadi masalah yang harus  ditangani secara serius di lapangan. Tetapi cara penanganan gepeng yang terkesan masih menggunakan cara-cara  konvensional seperti penertiban oleh aparat Tramtib yang terkadang  terkesan berlebihan, dalam sejumlah kasus bahkan dengan tindakan  brutal. Tapi, toh upaya mengatasi gepeng tetap tidak membuahkan hasil malah operasi penertiban yang dilakukan aparat  Tramtib Bekasi cukup efektif mengurangi maraknya para gepeng di  tempat-tempat umum meski caranya tidak manusiawi. Tetapi cara seperti itu  tidak membuat para gepeng meninggalkan aktivitasnya.

penipuan dan kisah kasih di jejaring sosial


Hay semua saya ingin berbagi pengalaman saya tentang jejaring sosial yang sudah tidak asing buat kita seperti friendster,facebook,twitter,dan masih banyak lagi .. tp saya disini akan bercerita tentang jejaring facebook ..


dimana facebook ini dibikin setelah friendster … dan kebanyakan kumpulan para remaja/dewasa
  lebih nyaman memakai facebook disbanding friendster.. karena di facebook kita bisa wall to wall ( dinding ke dingding ) atau kita bisa lebih banyak meng - uploud  foto lebih banyak dan bisa juga kita melakukan chatting dan sebagainya lah …

Kisah Yang Singkat

Terakhir 15 tahun yang lalu aku pulang kampung. Aku sudah lupa dengan suasana sana, samar-samar pun juga tidak ingat. Aku memberanikan diri untuk ke Padang hari kamis tidak dengan ibuku, melainkan dengan pamanku saja. Apa salahnya mencoba.

Sedikit untuk refreshing dengan keadaan kota yang menjenuhkan. Di benakku sudah terbesit suasana kampung yang ku rindukan. Di setiap perjalanan ku menikmatinya. Menyebrangi laut selat sunda dengan kapal, udaranya sangat dingin apalgi dengan ombak membuat kepalaku pusing. Keindahan kota lampung sudah terlihat di malam hari. Hanya diterangi lampu-lampu jalan. Banyak area pabrik dan juga hutan dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Perjalanan di lampung tidak sebentar dibutuhkan waktu sehari untuk melewati kota lampung. Lampung barat, selatan dan utara.


Plat Mobil B

April, satu tahun lalu. Dinginnya hembusan AC di mobil membuat badan ku menggigil dan perut ku semakin mulas. Ternyata bukan aku saja yang merasakannya, adikku dan teman-temannya pun juga. Tol Padalarang Barat cukup lenggang dan Buah Batu Bandung masih setengah jam lagi, kegelisahan kami pun bertambah.


Rabu, 27 April 2011

Tanda Silang Pedagang Tahu Keliling

Terik terasa menyengat menembus genting rumah, atau Ia menyelinap diam-diam tanpa permisi melewati celah-celah ya? Pikirku . Penasaran ku mengendap menghampiri garden dan melongok di sela-sela tirai yang terjuntai.


“ Tak ada yang aneh akh, suasana diluar pekarangan rumah masih seperti biasa kok,” tak mau kalah hati saya pun bergumam. Masih tetap sama penuh dengan tanam-tanaman suplir, rumput dan bunga-bunga kertas milik Bunda yang menghijau namun tetap tak meneduhkan ke dalam isi rumah yang saya pijaki.
Lagi-lagi pikiran saya  semakin heran, terpaksa saya lengkingkan suara agak keras agar terdengar seisi rumah.
“ Bun, gordennya sengaja ya di tutup siang-siang?” Tanpa ragu saya bertanya.
“Iya De, terik hari ini begitu menyengat dan silau sekali, makanya Bunda tutup saja, lagian tidak akan ada tamu hari ini.” Suara bunda yang begitu yakin dan terdengar sayup-sayup dari kejauhan kamarnya yang terhalang ruangan tamu.
“owhhh….” hanya kata itu yang pas mewakili semua keheranan yang saya pertanyakan.
            Siang ini tepatnya 12.45 WIB, awal pekan yang hambar bagi saya, terasa malas sekali badan ini tuk melakukan aktivitas, terlebih lagi tidak ada jadwal kuliah hari senin, daripada saya pusing berpikir ingin melakukan apa, saya ikat sebelah tirai biru muda yang menjuntai indah begitu sembarang pada tempatnya.
“Sreeeek,” terdengar lingkaran besi pengait dan besi penopang saling bergesekan.
            Tak ragu saya pun merebahkan badan sejenak diatas sofa, ada apa dengan saya ? itu pertanyaan yang berulang-ulang saya ucapkan namun tak memiliki jawabannya.
“akhhhh,” desahan pelan jeritan hati saya pun tak tahu apa sebenarnya yang membuat saya begitu tak nyaman siang ini. Saya tutup bantal saja wajah dengan harapan terlelap di cuaca siang yang tak menentu .
            Beberapa menit kemudian terdengar sayup-sayup dari kejauhan, semakin dekat dan terus-menerus semakin keras menghampiri.
“Tahuuuu,, tahuuuu,, tahuuuuu,” suaranya keras dan nyaring, sesekali terdengar bunyi,
“Kring,, kring..” suara bel sepeda pada umumnya.  Saya beranjak  bangun dan tergesa-gesa menghampiri gagang pintu dan melongok dari balik pintu.
“ Beli bu, tunggu ya.” Saya percepat langkah menghampri gerbang sejauh sepuluh meter dari pintu yang telah terbuka. Mata ini semakin lama semakin jelas mengamati, tiba-tiba saya terperangah dan bertanya.
“ Tahu gejrot bukan Bu?” Tanpa ragu pertanyaan itu menyambar saja bak petasan menyambar setelah sumbunya dinyalakan api.
“ Bukan nenk, ini tahu cina, untuk di masak,” begitu jawaban santunnya.
            Sekilas saya amati sesosok ibu berumur 50-an dengan rambut putih yang hampir memenuhi seluruh bagian atas kepalanya, kerutan-kerutan yang begitu nyata menghiasi wajahnya, sesekali menyunggingkan senyum yang semakin menampakkan kerutan di pangkal matanya, betapa tuanya Ia masih mencari nafkah di usianya yang sudah tak muda lagi. Saya sangat teralihkan pada keringatnya bagai air bah yang bercucuran memenuhi dahi turun ke lehernya begitu deras, sungguh  menandakan betapa terik sekali siang ini. Tak luput dari perhatian saya adalah teman setianya, walau mengangkut beban begitu berat Ia tetap kokoh menemani sang empunya berkeliling-keliling, dalam suasana panas mencari seonggok untung yang tak seberapa besar namun mampu memenuhi sebagian kebutuhannya, ya dialah sepedanya.
“Boleh ngobrol sedikit Bu? tapi ibu jangan khawatir, saya beli dagangan ibu juga ya,” perlahan tapi pasti itulah pertanyaan yang pertama saya lontarkan.
“Tenang aja nenk nggak apa-apa kok,” Ia berusaha meyakinkan memang saya tidak mengganggu dirinya berjualan.
“ Oia, nama Ibu siapa? Lalu berjualan tahu ini sudah lama?”
“Nama saya Surti, alhamdulilah sudah 2 tahun nenk.” Sekilas Ia menerawang berusaha mengingat apa yang diucapkannya.
“ Harga satuannya berapa Bu? Dan biasanya sehari ibu laku berapa menjual tahu cinanya ?”
“ Harga satuannya Rp 3500, Alhamdulillah juga ya nenk, setiap hari selalu habis 50 tahu cina sehari.”
“ Berarti pendapatan ibu sehari Rp 175.000,00 ribu perhari ya? Tahunya ibu buat sendiri atau membeli dari orang?”
“Ya segituan nenk, nggak , ini ibu dapat langsung dari pabriknya, kebetulan suami ibu kerja di pabrik tahunya, ibu bantu-bantu jualan kayak gini aja , kalau dari sini gak jauh-jauh amat nenk, pabriknya di Desa Sukadanau Kp Tangsi, nama Pabriknya Tahu Purnama.”
“Lihat kondisi seperti ini apa ibu tidak lelah ya mendayuh-dayuh pedal sepeda dengan beban tahu cina sebanyak lima puluh biji,  satu tahu hampir setengah kilo lho Bu,” tak ragu saya ambil satu biji tahu cina dan menimang-nimangnya.
“Sudah terbiasa nenk, kadang Ibu jualannya dua balik muter dua perumahan berbeda dalam sehari, maklum nenk Ibu punya lima anak dan masih punya anak bungsu yang sekolah kelas 6 di SD Sukadanau sana.”
“Boleh tahu harga dari pabriknya berapa Bu? Saya kagum kepada Ibu yang tak kenal lelah demi keluarga. Saya ingin berkunjung ke pabrik boleh tidak ya Bu? Saya beli  empat biji ya Bu tahunya.”
“ Sekitar tiga ribuan, iya nenk silahkan aja, boleh nenk boleh.”
       Bu Surti begitu cekatan mengambil tahu cina setiap buahnya di masukan ke dalam plastik bening seukuran besar tahu cina dan memasukkan ke dalam kantong kresek hitam satu demi satu sebagai tanda sudah selesai pengemasan yang dilakukannya.  Saya rogoh saku mengambil uang sepuluhan dan lima ribuan.
“Ibu makasih banyak ya waktunya, terima kasih mau ngobrol-ngobrol sebentar, mau masuk dulu main ke rumah saya?”
“Tidak usah nenk, nanti ibu nggak jualan donk?” Sedikit terkekeh Ia mengakhiri obrolan siang yang ditengah terik depan rumah saya pada hari senin, 25 April 2011 ini.
       Saya acungkan setinggi wajah kantong plastik berisi tahu cina sejenak, sungguh wanita tangguh, tak kenal lelah di usianya yang semakin senja, saya semakin penasaran tentang kehidupan dan keluarganya.
       Ada yang ingin begitu saya ketahui tanpa bertanya pada Bu Surti langsung tentang sesayat luka berbentuk silang dipipi kirinya. Sama seperti tanda di drum kecil wadah tahunya.
       28 April 2011 saya mencoba mencari pabrik Tahu Purnama, ternyata tidak sulit, seperti sebuah keberuntungan berpapasan langsung dengan Bu Surti dari arah yang berbeda. Ia berhenti mengayuh sepedanya, lalu menyapa.
“ Nenk, jadi yaa kesini?”
“ Iya Bu, tapi saya hanya lewat saja dulu, saya siang ini ada kuliah pukul 13.00 WIB terlebih dahulu, kapan-kapan saya mampir ya. Masih bolehkan ya Bu?” kusunggingkan senyum sebagai tanda memohon.
“Ohhhh, iya nenk iya, hati-hati aja ya.”
“iya Bu terima kasih.”
            Saya perhatikan sejenak tanda silang diwajahnya, setelah berbalik badan saya perhatikan tanda silang pada drum kecil tempat tahu Ibu Surti. Tak hilang akal , ada seorang satpam yang menjaga pintu gerbang pabrik tahu ini. Maka, saya bertanya sambil menunjuk tangan kea rah punggung Bu Surti.
“Maaf pak, boleh bertanya? Bapak kenal ibu itu?”
“Ohhhh, Bu Surti? Kenal, kenapa ya Mba?”
“Tanda silang di pipinya kenapa ya? Mengapa sama dengan tanda silang di drum kecil tahunya ya Pak?”
“Jadi gini nenk, waktu itu Bu Surti berniat mau memberi tanda pada drumnya, karena dari besi kan harus dipanasin dulu, pas besi tanda silang nya udah merah mau di tempelin ke drum, Bu Surti kesandung terus jatuh, tapi posisi jatuh si besi panas itu ketiban sama pipinya.”
“Astagfirullah, kasian sekali ya Bu Surti.”
“ Iya ne mba kasian banget.”
“Terima kasih informasinya, saya permisi ya Pak.”
         Sepanjang perjalanan saya ingat wajah Bu Surti, banyak sekali dari sikapnya yang perlu dicontoh, kemauannya, kerja kerasnya, semangatnya, semua ada pada dirinya. Sejak saat itu saya semakin menghargai betapa indahnya hidup ini. Harus banyak bersyukur atas apa yang telah kita miliki.
                                    ***

Punk It’s My Life


            Asap mengebul hitam pekat didepan wajahku , suasana sore yang sangat tidak menyenangkan . Saat itu aku sedang berada di Perempatan wanaherang , jalan ini berada diantara perbatasan Cibinong dan Gunung Putri , karena perbatasan maka tiap sore jalanan ini macet karena banyaknya karyawan dan anak sekolah yang pulang .



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More